Hai... Aku berharap semuanya sehat dan berjalan normal :)
Aku Pipin, anak yang begitu banyak unek-unek di kepala.
Yaa...
Entah kenapa unek-unekku semakin banyak dan menumpuk, dan itu membuat aku naik darah saja.
Sebut saja si "A", dia anak yang baik dan pintar. Bagi orang... belum tentu bagi aku. Aku kurang suka dengan sifatnya. Setelah aku mengenal... dia orang yang licik, selalu memuji orang tapi sekalinya mengetahui kejelekan atau kesalahan orang lain, dengan mudahnya dia men-judge orang itu tidak benar. Aku ikuti permainannya, aku iyakan apa katanya, dan ternyata benar seperti yang aku pikirkan. Wah... aku kaget dengan hal ini awalnya tapi kupikir ya sudahlah... itu hak dia.
Sebut saja si "B", dia anak yang baik dan juga pintar. Bagi orang... belum tentu bagi aku. Aku kurang suka dengan sifatnya. Setelah aku mengenal... dia semakin licik saja, dia mampu menjadi bunglon di saat yang tepat. Dengan keegoisannya, dia bisa dapatkan informasi yang dia butuhkan dengan berubah menjadi "baik" di depan, tapi setelah dia dapatkan, dia berubah menjadi "buruk", tidak kenal, tidak juga ramah. Wah... aku kaget dengan hal ini awalnya tapi kupikir ya sudahlah... itu hak dia.
Sebut saja si "C", dia anak yang baik, pintar dan juga manis. Bagi orang... belum tentu bagi aku. Aku kurang suka dengan sifatnya. Setelah aku mengenal... dia sombong sekali, bicara seolah-olah semua bisa diandalkan. Yaa... menggunakan segala cara, mungkin. Dan lagi dia jarang tersenyum. Sombong sekali bukan?! Itupun terhadap orang yang dia kenal pun jarang senyum. Kalau pun dia senyum dan tak dibalas, dia bakal mengeluarkan sumpah serapah untuk orang tersebut, walaupun dibelakang. Tapi apakah orang senyum padanya, dia akan membalas? Jawabannya belum tentu. Aku mengalaminya... Wah... aku kaget dengan hal ini awalnya tapi kupikir ya sudahlah... itu hak dia.
Dan...
Sebut saja si "D", dia anak yang baik, pintar dan tentu saja cerdas. Bagi orang... belum tentu bagi aku. Aku kurang suka dengan sifatnya. Setelah aku mengenal... dia orang yang angkuh. Aku curhat dengannya dan sedikit mengeluh. Dia berkata, "Baru begini saja sudah mengeluh!!" dengan nada yang agak tinggi. Aku respect dengan apa yang dia katakan tapi apakah begitu caranya menghadapi orang yang curhat dan butuh dorongan?! Dan lagi ketika dia menyatakan pendapatnya tentang curhatanku, kata-katanya menjatuhkan aku. Sampai aku menangis. Wah... aku kaget sekali dengan hal ini awalnya tapi kupikir ya sudahlah... itu hak dia.
A, B, C, D adalah segelintir orang yang membuat hidupku menjadi sedikit berwarna. Yaa... warna abu-abu. Sama halnya seperti warna mendung dan hujan, kelabu dan dingin sekali. Membuat orang terserang sakit flu saja.
A, B, C dan D, padahal kalo mereka tidak seperti itu atau sedikit mengubah sifat mereka, akan banyak sekali orang yang akan mempercayakannya. Orang akan senantiasa membantunya, orang akan nyaman dan senang didekatnya, orang tak akan segan menyapanya dan orang akan jatuh hati padanya, orang akan memperebutkannya, orang akan simpati padanya dan orang akan berbuat baik padanya.
Yaa... manusia tidak ada yang sempurna, aku tau itu. Karma selalu berlaku. Yaa.. aku tau itu. Lalu aku bertanya, "Apakah aku mengalaminya itu semua karena aku pernah berbuat demikian ke orang lain?". Siapa yang tau... mungkin saja. Aku minta maaf...
Lagi-lagi...
A, B, C, dan D adalah segelintir orang yang membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Warna tidak akan lengkap tanpa warna abu" bukan?! Yaa.. tentu saja.
Dengan ini aku jadi belajar tentang kehidupan dan menjadi lebih dewasa dalam menyikapinya.
Aku mau berterima kasih pada seseorang, dia mengajarkan banyak hal . Dengan bersikap low profil, aku suka sekali.
Entah mengapa terkadang masih saja aku menitikkan air mata, apa aku masih mengingatnya? begitu banyak pertanyaan yang masih simpang siur. Haa... aku sudah tidak tau lagi. Yang pasti, yang pernah dia katakan, aku masih ingin bisa menjalaninya. Yaa... menjadi orang yang tidak mengeluh terhadap apa yang orang lain lakukan kepadaku seperti unek-unekku di atas. Mulia sekali... jika kesal, yang paling simple dilakukan adalah DIAM... belajar meredam emosi yang menggebu-gebu.
Terima Kasih AK dan teman-teman... Awalnya kupikir ini yang terbaik :)
Aku Pipin, anak yang begitu banyak unek-unek di kepala.
Yaa...
Entah kenapa unek-unekku semakin banyak dan menumpuk, dan itu membuat aku naik darah saja.
Sebut saja si "A", dia anak yang baik dan pintar. Bagi orang... belum tentu bagi aku. Aku kurang suka dengan sifatnya. Setelah aku mengenal... dia orang yang licik, selalu memuji orang tapi sekalinya mengetahui kejelekan atau kesalahan orang lain, dengan mudahnya dia men-judge orang itu tidak benar. Aku ikuti permainannya, aku iyakan apa katanya, dan ternyata benar seperti yang aku pikirkan. Wah... aku kaget dengan hal ini awalnya tapi kupikir ya sudahlah... itu hak dia.
Sebut saja si "B", dia anak yang baik dan juga pintar. Bagi orang... belum tentu bagi aku. Aku kurang suka dengan sifatnya. Setelah aku mengenal... dia semakin licik saja, dia mampu menjadi bunglon di saat yang tepat. Dengan keegoisannya, dia bisa dapatkan informasi yang dia butuhkan dengan berubah menjadi "baik" di depan, tapi setelah dia dapatkan, dia berubah menjadi "buruk", tidak kenal, tidak juga ramah. Wah... aku kaget dengan hal ini awalnya tapi kupikir ya sudahlah... itu hak dia.
Sebut saja si "C", dia anak yang baik, pintar dan juga manis. Bagi orang... belum tentu bagi aku. Aku kurang suka dengan sifatnya. Setelah aku mengenal... dia sombong sekali, bicara seolah-olah semua bisa diandalkan. Yaa... menggunakan segala cara, mungkin. Dan lagi dia jarang tersenyum. Sombong sekali bukan?! Itupun terhadap orang yang dia kenal pun jarang senyum. Kalau pun dia senyum dan tak dibalas, dia bakal mengeluarkan sumpah serapah untuk orang tersebut, walaupun dibelakang. Tapi apakah orang senyum padanya, dia akan membalas? Jawabannya belum tentu. Aku mengalaminya... Wah... aku kaget dengan hal ini awalnya tapi kupikir ya sudahlah... itu hak dia.
Dan...
Sebut saja si "D", dia anak yang baik, pintar dan tentu saja cerdas. Bagi orang... belum tentu bagi aku. Aku kurang suka dengan sifatnya. Setelah aku mengenal... dia orang yang angkuh. Aku curhat dengannya dan sedikit mengeluh. Dia berkata, "Baru begini saja sudah mengeluh!!" dengan nada yang agak tinggi. Aku respect dengan apa yang dia katakan tapi apakah begitu caranya menghadapi orang yang curhat dan butuh dorongan?! Dan lagi ketika dia menyatakan pendapatnya tentang curhatanku, kata-katanya menjatuhkan aku. Sampai aku menangis. Wah... aku kaget sekali dengan hal ini awalnya tapi kupikir ya sudahlah... itu hak dia.
A, B, C, D adalah segelintir orang yang membuat hidupku menjadi sedikit berwarna. Yaa... warna abu-abu. Sama halnya seperti warna mendung dan hujan, kelabu dan dingin sekali. Membuat orang terserang sakit flu saja.
A, B, C dan D, padahal kalo mereka tidak seperti itu atau sedikit mengubah sifat mereka, akan banyak sekali orang yang akan mempercayakannya. Orang akan senantiasa membantunya, orang akan nyaman dan senang didekatnya, orang tak akan segan menyapanya dan orang akan jatuh hati padanya, orang akan memperebutkannya, orang akan simpati padanya dan orang akan berbuat baik padanya.
Yaa... manusia tidak ada yang sempurna, aku tau itu. Karma selalu berlaku. Yaa.. aku tau itu. Lalu aku bertanya, "Apakah aku mengalaminya itu semua karena aku pernah berbuat demikian ke orang lain?". Siapa yang tau... mungkin saja. Aku minta maaf...
Lagi-lagi...
A, B, C, dan D adalah segelintir orang yang membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Warna tidak akan lengkap tanpa warna abu" bukan?! Yaa.. tentu saja.
Dengan ini aku jadi belajar tentang kehidupan dan menjadi lebih dewasa dalam menyikapinya.
Aku mau berterima kasih pada seseorang, dia mengajarkan banyak hal . Dengan bersikap low profil, aku suka sekali.
Entah mengapa terkadang masih saja aku menitikkan air mata, apa aku masih mengingatnya? begitu banyak pertanyaan yang masih simpang siur. Haa... aku sudah tidak tau lagi. Yang pasti, yang pernah dia katakan, aku masih ingin bisa menjalaninya. Yaa... menjadi orang yang tidak mengeluh terhadap apa yang orang lain lakukan kepadaku seperti unek-unekku di atas. Mulia sekali... jika kesal, yang paling simple dilakukan adalah DIAM... belajar meredam emosi yang menggebu-gebu.
Terima Kasih AK dan teman-teman... Awalnya kupikir ini yang terbaik :)
